Senin, 08 Februari 2010

SUlitnya cari pekerjaan di Indonesia..

Saking susahnya nyari kerjaan, akhirnya seorang lulusan ITB terpaksa
menerima tawaran untuk bekerja di sebuah Kebun Binatang.

“Apa boleh buat daripada nganggur…., bekerja jadi penghibur seperti ini juga bolehlah, yang penting halal!” begitu tekadnya.

Maka sejak hari itu sang insinyur muda mulai bekerja sebagai “monyet-monyetan” di kebun binatang tersebut.

Sepanjang hari dia harus betah mengenakan baju dan topeng monyet sambil mengunyah pisang atau kacang rebus terus-menerus.

Dia harus jumpalitan selincah mungkin untuk menarik perhatian pengunjung kebun binatangyang berkunjung, pokoknya tak beda dengan monyet asli yang sudah mulai punah.



Hari-hari berikutnya tak ayal lagi pengunjung Kebon Binatang jadi membludak lantaran mau melihat si monyet super yang konon tidak hanya lincah dan gesit beraksi tetapi juga cerdas..!!! Wong lulusan ITB kok.

Sayang sekali yang namanya sial itu sulit dielakkan…., dan akhirnya
bisa datang juga kepada si monyet-monyetan ini.

Sedang enak-enaknya si monyet jumpalitan, tiba-tiba: “gedebuk….. byurrrrrrrrrrr” dan Sang monyet terjatuh ke dalam kandang buaya.

“Waduh…, mati aku..!!!” pikirnya sebelum dimangsa oleh buaya-buaya ganas itu.

Tapi ketika mulut buaya terbuka lebar siap menggigit sang monyet…, dari dalam terdengar suara berbisik :

“Jangan takut mas….kami dari UI …….. “
X_XнëнëнëX_XX_XнëнëнëX_XX_XнëнëнëX_X

Rabu, 03 Februari 2010

KTKLN yg bikin gusar

Ini ada petikan pembahasan masalah KTKLN yg lagi rame..


Diana namanya, enam bulan lalu pulang dari UAE, sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Sebenarnya bukan bekerja pada orang lain, namun masih ada hubungan keluarga. Hitung-hitung ketimbang harus mempekerjakan orang lain, lebih baik memanggil Diana, yang waktu itu tidak bekerja sementara butuh penghasilan untuk membiayai anaknya yang sedang duduk di kelas dua Sekolah Dasar.
Diana yang hanya bekerja selama dua tahun di UAE, harus keluar kocek, mulai dari ongkos pembuatan passport hingga fiskal yang jika dihitung jumlahnya akan lebih dari Rp 2 juta, termasuk ongkos transport. Maklum, orang sekelas dia tidak memiliki kendaraan sendiri untuk segala kebutuhan ini. Untuk ukuran Diana, duit sejumlah ini tentu saja ukurannya cukup besar.
Saya menanyakan, apakah masih tertarik untuk bekerja di luar negeri, barangkali ada rekan atau kenalan yang membantu tenaganya, sehingga bisa menjadi peluang baru bagi Diana untuk mendapatkan pekerjaan, ketimbang harus bekerja yang sama di negeri sendiri. Diana berpikir sejenak, butuh waktu untuk mengambil keputusan terakhir. Sebulan lebih berlalu, Diana belum tertarik untuk balik lagi. Ke luar negeri, katanya, tidak semudah pulang pergi Jakarta-Bogor!
Ketika saya tanya kepada Agung, salah seorang warga kita yang baru dua bulan kerja di Qatar, berapa biaya yang dia keluarkan untuk mendapatkan KTKLN, dia bilang Rp 2,500,000 saja! Ini sungguh, bukan bohongan!
Dengan aturan yang baru, KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri), saya jadi mengerti, kenapa Diana tidak terlalu tertarik ajakan ke luar negeri. Dan bagi Agung, KTKLN nyata-nyata sebuah bentuk mempersulit warga Indonesia untuk bersaing bekerja di luar negeri.

Aturan di dalam negeri ini kenyataannya menjadi lebih berbelit. Macam-macam alasan Pemerintah kita (baca Oknum?) mengapa harus diberlakukan hal ini. Jika saya telusuri, terdapat tiga alasan mendasar di belakang KTKLN ini. Yang pertama alasannya adalah penertiban tenaga kerja kita di luar negeri. Yang kedua, alasan monitoring. Dan yang ketiga demi perbaikan sistim serta perlakukan tenaga kita oleh pengguna tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Penertiban

Ada aksi, tentu saja muncul reaksi. Himbauan dari pihak yang mengeluarkan aturan ini mengatakan bahwa aturan ini hendaknya tidak dibesar-besarkan dan jangan dinilai dari satu sudut, yakni mempersulit tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Sebuah himbauan yang terkesan mengada ada.

Kenyataannya memang mempersulit. Bagaimana tidak mempersulit jika, baik dari sudut fisik, material dan psikologis cukup membuat tenaga kerja kita yang berada di luar negeri repot, khususnya yang sedang cuti, bisa jadi 'kelabakan' sebelum balik ke negara tempat mereka bekerja. Teman-teman kita yang bekerja dan tinggal di Timur Tengah misalnya, makin memiliki kesan yang kuat, bahwa bukannya pemerintah menyimplifikasikan prosedur, justru memperumit keadaan.

Berapa kali sudah pemerintahan kita melalui sejumlah kabinetnya yang melanglang buana, mengunjungi sejumlah negara, mulai tetangga hingga Belanda, untuk benchmarking masalah ketenaga-kerjaan ini? Tidak jauh-jauh, lihat saja di Filipina, Thailand atau Malaysia. Berapa jumlah tenaga kerja mereka yang berapa di luar negeri? Tidak tertibkah mereka? Di Filipin, dikenal OFW (Overseas Filipino Workers). Mereka yang bekerja di luar negeri, nimbrung bersama dalam wadah dan di bawah payung OFW.

Jika ada masalah, mereka turun tangan. Kedutaan besar mereka di luar negeri adalah kepanjangan tangan OFW. Mereka cepat tanggap jika ada masalah. Bahkan yang namanya pelatihan-pelatihan , seambreg jumlahnya, ditangani oleh mereka. Gratis lagi! Mereka memang harus membayar iuran, tetapi tertib. Mereka juga yang mengurusi passport warga negaranya. Pokoknya, one stop shopping.

Kita? Tidak perlu di dalam negeri, di Qatar saja misalnya, sudah banyak sekali singkatan-singkatan yang membawa bendera sendiri-sendiri, menurut hobi dan profesi masyarakat kita, persatuan ini keq, itu keq. Himpunan ini dan himpunan itu. Tidak dalam kendali satu organisasi yang mengayomi sejumlah bendera profesi, kepentingan maupun hobi.

Kalau kita mau tertib, memang arahannya harus dari atas. Jika yang di atas sana memberikan contoh-contoh yang baik bagi warganya, otomatis bisa dimanfaatkan sebagai cermin bagi kita yang di bawah, rakyat biasa. Kalau dubes kita senang menyanyi dan dangdutan, ya bagaimana warga akan terpacu untuk menggali ilmu atau ketrampilan lain di luar negeri atau bikin banyak kegiatan positif macam orang-orang Filipina? Jangan berharap masyarakat bisa tertib kalau pimpinan dan stafnya amburadul dalam mengelola masyarakat kita.

Berapa jumlah warga kita di luar negeri yang dilecehkan? Di Malaysia, Singapore, UAE, Arab Saudi, Kuwait. Jumlahnya banyak yang tidak terlaporkan. Belum lagi yang lari atau diam di belakang kantor-kantor perwakilan RI. Yang di situ aja belum bisa ditertibkan. Jadi apa maksud KTKLN? Sampai saat ini, masih aja keluhan penanganan di Bandara Cengkareng terhadap TKI-TKI kita seolah-olah mereka masyarakat kelas dua di negeri sendiri. Inikah penertiban yang dimaksud?

Monitoring
Sekarang lagi jamannya computer. Istilah pun jadi macam-macam. Monitor yang semula hanya dipakai untuk layarnya computer, kemudian dipakai untuk menyebut istilah 'kendali' sebagai penggantinya. Monitoring, keren kedengarannya. KTKLN diharapkan pemberlakuannya bisa digunakan untuk memonitor tenaga kerja kita di luar negeri. Apa obyek konkrit yang dimonitor? Pihak KTKLN yang paling tahu elaborasinya.

Barangkali dengan didaftarkannya seluruh tenaga kerja kita di KTKLN, mereka akan memiliki semacam Database yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan statistic. Mulai dari jumlah, jenis kelamin, umur, jenis kerjaan, lokasi negara, klasifikasi gaji dan sebagainya. Untuk apa semua ini? Kembali lagi, pihak KTKLN yang paling tahu dan bisa menjawabnya. Karena mereka sudah melakukan penelitian tanpa harus menjadi warga Indonesia yang pernah kerja di luar negeri.

Ah, jadi kayak Auditor aja. Kalau yang begini tujuannya, ya sebenarnya tidak perlu membentuk sendiri badan semacam ini. Bukankah sudah ada Departemen Tenaga Kerja? Selain itu, ada juga Dirjen Imigrasi. Di lembaga-lembaga semacam ini mestinya sudah tersimpan data yang dimaksud di atas. Jadi apa yang harus dimonitor?

Kalaupun monitoring juga untuk memantau perlakuan 'majikan', tentang salary, jaminan kesehatan, atau urusan tetek bengek lainnya, lho, kan sudah ada KBRI sebagai kepanjangan tangan Pemerintah yang bisa saja di bawahnya dibentuk seksi-seksi kecil seperti FOW bagi orang Filipin di atas? Andai Gus Dur masih hidup, barangkali beliau akan bilang: "Gitu aja koq repot!!"

Memperbaiki Sistem

Hari ini, ketika artikel ini saya tulis, demo besar sedang berlangsung di Jakarta. Istana Negara dilempari peti mati dan tikus (Detik.com, 28 Jan, 2010). Ini suatu pertanda bahwa rakyat kurang atau tidak puas dengan kinerja pemerintah dan sistem yang ada.

Jika tujuannya untuk memperbaiki sistem dalam penanganan tenaga kerja kita di luar negeri, lha terus, apa hasil kunjungan sejumlah anggota DPR dalam beberapa tahun terakhir ke beberapa negara itu? Tidakkah mereka melihat, mana ada negara di dunia ini yang memiliki lembaga semacam KTKLN? Apakah dengan tidak memiliki KTKLN lantas negara-negara tersebut tidak baik penanganan tenaga kerjanya di luar negeri?

Lihatlah orang-orang Inggris, India, Amerika, China, Filipina, Bangladesh, Pakistan, Sri lanka hingga Nepal! Tanyakan kepada mereka kalau punya kartu ini dan itu selain Visa Card, Passport dan SIM? Hal itu tidak mengurangi sistem mereka yang membuat rakyat kondisi sosial ekonominya juga lebih baik ketimbang kita.

Di negeri ini, RT, RW, Kelurahan, Camat, Kabupaten, Kota Madya, hingga kantor Gubernur...apa masih kurang? Di negara-negara Arab, tidak ada yang namanya RT-RW, tapi data pendudukan tertib. Orang memiliki passport saja cukup dan bisa dipakai ngurusin banyak hal tanpa kartu-kartu lain. Kita? Kalau nggak ada KTP atau SKKB, jangankan kerja, melamar saja sulit. Sekarang koq gilirannya KTKLN dengan tujuan memperbaiki sistem.

Ah! Barangkali, menurut hemat saya, KTKLN ini tujuan utamanya hanya untuk menambah perbendaraan singkatan dalam Kamus Bahasa Indonesia di Wikipedia saja. Saya jadi ingat komentar warga asing yang pernah tinggal di Indonesia. Salah satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah: Negara Indonesia adalah negara yang paling kaya mengumpulkan singkatan.

Karena itu, kalau boleh saya panjangkan, KTKLN adalah: Korupsi-Teruskan dan Kolusi-Lestarikan di Negeriku; Kita Terapkan Kepemimpinian yang Liar dan meNakutkan; Kalau Tidak Korupsi, Langsung Nelangsa.

Doha, 28 January 2010

Senin, 01 Februari 2010

ASC buka lowongan

ASC buka lowongan lagi...
Bagi yg berminat keluarga atau saudara..., pinteran sekarang emailnya diganti ga pake Recruitment@asc.co.id

CAREER OPPORTUNITY

We are one of the largest Petrochemical Company in Indonesia, seeking to expand our team by recruiting high caliber profesional for the following positions:

TAX STAFF (TS)
You should be Male 25-30 years old, minimum D3 degree in Taxation and have a Brevet A certificate is preferably, have experience at least 2 years in handling e_SPT monthly and annual tax report, annual tax returns and VAT, preferably in Multi National Company. Have good computer skill, be able to work with tight deadline and to perform work both independently and in a team. To be stationed in Jakarta.

ACCOUNTING STAFF (AS)
You should be Male, max. 27 years old, D3 (Academy) or University Degree in Accounting. Have good computer knowledge. Having experience as General Accounting Staff will be an advantage. To be stationed in Jakarta.

BERTH CONTROL STAFF (BC)
You should be Male, max. 35 years old, graduated from Marine Academy / University, have good Health (Physically and Mentally). Having computer literacy and fluent in English. Familiar with SAP, ISO system and having organizational experience will be an advantage. Having experience minimum 2 (two) years in merchant ship will be an advantage. To be stationed in Cilegon.

PURCHASING STAFF (PS)
You should be Male, max 35 years old, University graduated with Technical background Mechanical, Electrical, Instrument, Civil or Computer, have good Health (Physically and Mentally). Having computer literacy and fluent in Engish. Familiar with SAP, ISO system and having organizational experience will be an advantage. Having several years experience in Purchasing or Import or Logistics will be an advantage. To be stationed in Jakarta or Cilegon.

To apply please send your application letter, CV, recent passport-sized photograph, copy of last education certificate and academic transcript by putting the code on the top left of your envelope at the latest two weeks after this advertisement to:

PO BOX 6946 JKS-ST
JAKARTA 12069
Or
recruitment42447@gmail.com

Senin, 25 Januari 2010

Last High Quality Safety Staff

Rekan kita ini mungkin sebagian pernah melihat eksistensinya di ASC, terutama rekan2 di PVC-VCm-2, Doi pernah bertugas di safety di sebagian produksi. DOi masuk sekitar tahun 2000 dan menjadi alumni sektar tahun 2007.
Posisi terkahir doi bertugas di ASC yaiut sebagai safety yg mengurusi Hiygine dll, makanya doi sering banget berhubungan dengan Klinik ASC, terutama Dr Erdy.
Dan begitu juga dengan tugasnya sekarang di Exon Oil co. doi bertugas sebagai Safety Hygiene, LUlusan ITB jurusan TEknik LIngkungan ini juga sempat menyelesaikan kuliah DI UI (S2) jurusan K3.
Doi masih bertempat tinggal di Cilegon sementara ini walaupun bertugas diluar pulau jawa. Ditanya mengenai keinginan untuk pergi ke Middle East, doi menjawab sementara ini baru menuntut ilmu yg dianggap masih kurang, jika waktunya tepat, Why not..siapa sih yang ga tergiur dengan fasilitas mewah di Middle east Oil company, eperti yg pernah ditawarkan Kuwait Oil COmpany baru-baru ini kepada beliau, namun karaen merasa ilmunya belum tamat di Exxon, maka Doi menolak dengan halus, tenteu saja Maybe Next time..
bagi rekan-rekan yg ingin menjalin persahabatan dengan beliau bisa mengadd di Facebook search ADi Wibowo atau email : s.adiwibowo@yahoo.com
Yang terakhir mungkin doi The Last Man dari safety yg menjadi alumni ASC, karan melihat konisi sekarang, penghuni departemen safety sudah merasa mapan dan makmur sehingga tidak tergiur tawaran lain, ditambah banyak staff safety yg berasal dari operator, dan tentu saja hal ini merupakan pencapaian tertinggi buat hidup mereka menjadi staff safety..apalagi yg mereka cari....generasi Emas safety telah berkahir dan ADI Wibowo sebagai Last man in Safety which is high quality person
SEmoga sehat and sukses selalu menyertaimu friend...

Minggu, 10 Januari 2010

Pioneer of PVC Invasion in Petronas


SEperti yang diketahui bersama, rekan-rekan ASC dari departemen VCM sudah banyak yg bermigrasi ke Petronas, diawali dari VCM-2 sekarang sudah mulai mencakup VCM-1 pula. Rekana kita yang satu ini malah lebih spekatakuler, karean menjadi Pioneer departemen PVC untuk ikut menginvasi Petronas.
Dengan bekal ilmu yang diperoleh dari bos-bosnya terdahulu, dan rajin membantu pekerjaan bosnya di PVC-ASC, ditambah dengan ilmu yang diperoleh dari Universitas Tirtayasa yang doi jabanin nyambi bekerja..doi berhasil menjadi Engieneer yang handal di Petronas, bahkan sekarang manjadi andalan, HP tidak dimatikan selama 24 jam (sangking dibutuhkannya). Hal ini bisa menjadi contoh buat rekan-rekan lain yang ingin mengikuti jejak doi, jangan malu dan males jika diberikan tugas dan permintaan bantuan dari Bos, karena hal itu bisa menjadi berguna suatu hari nanti.
walaupun sudah tidak di ASC, doi kadang masih sering main ke ASC, yah tentu saja saat Admin lagi bertugas hehehe...selain silaturahmi doi juga berdiskusi mengenai perkembangan produksi di Petronas dibanding ASC.
Semoga Amin Yulianto bisa menajdi panutan rekan-rekan, dan tentu saja diharapkan bisa menjadi seperti Trio VCM-2 (Yakub, Edwin-SUmaryadi) yang bisa mengajak rekan-rekan yang lain mengadu nasib dinegeri Jiran..Good LUck Friend .. Wishing all the best for U...

Senin, 28 Desember 2009

Kualitas Engineer Indonesia

Riset terakhir di negeri Cina tentang tenaga kerja.
disana ada kurang lebih 350 juta perusahaan besar dan kecil yang kalau dirata-ratakan jumlah pegwainya adalah 4 orang per perusahaan. Jadi jumlah pegawai yang ada di cina sekarang kurang lebih 350 juta x 4 orang = 1,4 Milyard orang. Penduduk cina seluruhnya per 31 Desember 2008 adalah 1,2 Milyard. jadi sekarang cina kekurangan tenaga kerja.
Nah, penduduk kita cuma 220 juta. Statistik BPS tahun lalu menunjukkan kurang lebih 10 juta tenaga kerja Indonesia yang menganggur. rasanya jumlah ini terlalu dikecil-kecilkan. coba kita mudik ke dusun kita, rata2 pemuda2 disana pada nganggur.
Megapa di cina banyak perusahaan ? karena berinvestasi disana sangat mudah, infra struktur lengkap, listrik murah, keamanan relatif terjamin, dedengkot buruh yang mogok dihukum, koruptor dihukum mati dst..dst..

Riset yang lain menunjukkan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa berkaitan langsung dengan pertumbuhan penanaman modal dalam dan luar negeri. Kalau insentif dan fasilitas berusaha yang tersedia di Indonesia kalah bagusnya dengan negara lain maka barang tentu para pemodal tidak akan melirik Indonesia sebagai tempat menanamkan modalnya. maka ekonomi indonesia akan tumbuh lambat. penganggurang tidak kunjung terselesaikan. Pemerintah bisa menyediakan lapangan kerja...? Gak mungkin. berapa jumlah pegawai negeri yang bisa diterima setiap tahunnya, sedikit dibandingkan dengan jumlah pengangguran yang ada.. Dari sini kita dapat menduga, apa yang seyogianya harus dilakukan oleh pemerintah kita untuk membuat sebanyak mungkin pengusaha dalam dan luar negeri untuk membuka atau menambah usahanya di Indonesia.

Saya setuju kalau engineer kita tidak kalah pandainya dari engineer luar negeri. tetapi pasar tenaga kerja itu seperti beras. bila beras banjir dipasaran harganya turun. bila beras dipasaran jumlahnya berkurang harganya naik. Setiap tahun angkatan kerja kita bertambah sedangkan pertumbuhan lapangan kerja tidak seberapa. Kalo begini maka kapan pasaran harga tenaga kerja kita akan naik.
Kalau pasaran harga tenaga kerja kita sudah naik, maka para engineer yang merasa digaji rendah, akan dengan mudahnya berhenti dan loncat keperusahaan lain yang menggaji tinggi. Semakin banyaknya lapangan kerja yang tersedia maka perusahaan akan rebutan untuk menyewa engineer dan dengan demikian insentif pertama yang harus mereka perbaiki adalah gaji. Gaji itu akan naik secara otomatis kalau persediaan engineer kita semakin langka karena semua mereka bekerja, karena lapangan kerja yang tersedia banyak sekali.

Masalah bahasa.
Pengusaha asing itu sangat sibuk. dia berani menggaji tinggi engineer asing karena 2 hal. 1 dia memang ahli dan ke 2 mereka tidak mengalami hambatan dalam berkomunikasi sehingga instruksi dapat dijalankan dengan cepat tanpa harus mengamatinya, karena si engineer mengerti betu apa yang diinstruksikan dan apa yang harus dikerjakannya. Saya tidak mengatakan engineer kita tidak bisa atau kurang pandai berbahasa inggeris. tetapi kenyataannya para employer asing masih menyangsikan kemampuan bahasa Inggeris mereka sehingga pelaksanaan kerja mereka masih harus diamati dan ini membutuhkan waktu pengawasan bagi mereka.
Dilain pihak kalau engineer itu berhenti, maka dengan mudah mereka membuka setumpuk lamaran yang pending di bagian personalia mereka. ada banyak engineer disitu yang ditarok di waiting list.

Dibawah ini adalah pengalaman yang saya alami sendiri.
Tahun 1998 saya menunggu selama 6 jam di ruang keberangkatan bandara Los Angeles di Amerika, menunggu connecting flight yang menuju Dallas, Texas. Didekat saya ada anak muda yang saya ragu kebangsaannya, tetapi kok kulitnya seperti kulit saya.
Saya sapa. Hey where ya come from
jawab The Phillippines
Tanya. Where ya headed to.
Jawab. Dallas
Tanya. What ya doin there
jawab. I'm workin for a parents orphanage
What's your hiest education
jawab. Senior technical school in Manilla, majoring in mechanical.
tanya, come on, you'r a mechanic but workin for orphanage??? ?
jawab. I operate and maintain their spare gen set.


Nah. ada berapa juta warga kta lulusan SMK yang menganggur?? ?????
Kalau mereka bisa mengerti dunia dan dimengerti oleh dunia, maka lowongan kerja diluar negeri sangat banyak untuk mereka. saya pernah bertemu seorang kerani gudang di Unocal Bangladesh. dia asal Pilipina dan gajinya US$ 3500 sebulan. berapa gaji kerani gudang kita di Indonesia... .????

Maka pendidikan bahasalah yang harus dibenahi oleh Pemerintah. Jangan terlalu bangga dengan sumpah pemuda kita. Satoe Bahasa, Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia itu kita kuasai tanpa harus belajar. Sekarang kita berada di era globalisasi, maka bahasa Inggerislah yang akan membuat kita mengerti dan dimengerti dunia. Bayangkan kalau tammatan SMK kita bisa seperti orang Pilipina yng saya ceritakan diatas, semua lulusan SMK kita akan bekerja dan berapa devisa yang akan mengalir ke Indonesia setiap tahunnya.

Saya punya keponakan yang dikirim bertugas di kedutaan Indonesia di Sudan. kedua anaknya yang masih SD dibawa kesana dan dimasukkan ke International School. 6 bulan setelah dia bertugas disana kami mengunjunginya dan kami dengar anaknya berdiskusi soal pkerjaan rumah sekolahnya dengan teman2nya skelas dan dia bicara Inggeris dengan fasih dan cepat.

Kurasa kalau pendidikan kita dibuat seperti ini, pasti akan berhasil.
Bahasa pengantar belajar dan mengajar.
TK 50 % Indonesia, 50 % Inggeris
SD 25 % Indonesia, 75 % Inggeris
SMP keatas wajib 100 % Inggeris
Jangan malu merekrut native english speaker untuk menjadi guru bahasa inggeris di Indonesia. Ada banyak yayasan Volunteer di berbagai negara maju yang mau bekerja dengan gaji murah untuk berbagai keperluan pendidikan di mana saja di dunia ini.

Sebagian dari pengalaman tersebut diatas pernah saya kirim dalam bentuk usulan ke Presiden Megawati dan terakhir kepada PresidenSBY lengkap dengan berbagai proposal tentang pengembangan tenaga kerja Indonesia. mudah2 an beliau jadikan masukan untuk membina anak2 didik kita.

Maaf, saya bukan menggurui tetapi sekedar berbagi pengalaman.

Umar Hasan
Doktor Manajemen Sumber Daya Manusia
Universitas Negeri Jakarta

Kamis, 24 Desember 2009

Akhir tahun news..


Setelah sempat diberitakan pergi dan tidak , rekan kita satu ini Anas subarnas bergabung dengan rekan-rekan yang difoto ini, untuk menjadi alumni ASC, walaupun Bonus akhir tahun ASC sudah dibagiakan 3X, tapi tetap tidak mengahalangi kepergian beliau, sementara ini doi hanya mengambil cuti panjang, karaen untuk menghindari kasus gagal tes kesehatan, dan kemngkinan akan segera rsign jika hasil Medicalnya memuaskan,,,
Kepergiannya sendiri mengikuti rekan-rekan yang lain yang telah berada di Saudi Kayan- kota AL JUbail, Arab Saudi.
Mengenai berita sebelumnya tenatng eksodus pelan2 asc berlanjut..dikatakan bahwa rekan kita samian pergi ke Borouge,ternyata doi lebih memilih untuk berangkat ke BP tangguh di Papua, romobongna Petronas yg confirm berangkat hanya 3 orang (Nursam, Alwi, dan Anang), Andris lagi menunggu VIsa untuk Q-Chem, dan santoso masih menunggu berita lebih lanjut dari Borouge. Berita teranyar rekan kita Farid-Utility berhasil masuk Ke Rasgas, Medical Check up dan surat-surat sudah disiapkan tinggal menunggu VIsa dll untuk berangkat, sementar untuk tanggal 26-27 Desember ini akan ada tes di RC untuk Qafco-operation, 25 des untuk Maintenance, semoga rekan-rekan bisa berhasil dan mendapatkan yang terbaik.. AMin.. sampai jumpa di tahun 2010...